| A. Fungsi Permintaan
Fungsi Permintaan adalah persamaan yang menunjukkan hubungan antara jumlah suatu barang yang diminta dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. fungsi permintaan adalah suatu kajian matematis yang digunakan untuk menganalisa perilaku konsumen dan harga. fungsi permintaan mengikuti hukum permintaan yaitu apabila harga suatu barang naik maka permintaan akan barang tersebut juga menurun dan sebaliknya apabila harga barang turun maka permintaan akan barang tersebut meningkat. jadi hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta memiliki hubungan yang terbalik, sehingga gradien dari fungsi permintaan (b) akan selalu negatif. Bentuk umum fungsi permintaan dengan dua variabel adalah sebagai beriut : Qd = a – bPd   atau Pd = -1/b ( -a + Qd) dimana : a dan b = adalah konstanta, dimana b harus bernilai negatif b = ∆Qd / ∆Pd Pd       = adalah harga barang per unit yang diminta Qd      = adalah banyaknya unit barang yang diminta Syarat, P ≥ 0, Q ≥ 0, serta dPd / dQ < 0 untuk lebih memahami tentang fungsi permintaan, dibawah ini disajikan soal dan pembahasan tentang fungsi permintaan.
Pembahasan : Dari soal diatas diperoleh data : P1 = Rp. 5.000     Q1 = 1000 Kg P2 = Rp. 7.000     Q2 = 600 Kg untuk menentukan fungsi permintaannya maka digunakan rumus persamaan garis melalui dua titik, yakni : y – y1          x – x1 ——   =  ——– y2 – y1       x2 – x1 dengan mengganti x = Q dan y = P maka didapat, P - P1           Q – Q1 ——-   =  ——– P2 – P1        Q2 – Q1 mari kita masukan data diatas kedalam rumus : P   -    5.000                   Q – 1000 ———————–  = —————- 7.000 - 5.000                  600 – 1000 P – 5.000                Q – 1000 ———————– = —————- 2.000                       -400 P - 5.000 (-400)   =  2.000 (Q – 1000) -400P + 2.000.000 = 2000Q – 2.000.000 2000Q = 2000.000 + 2.000.000 – 400P Q = 1/2000 (4.000.000 – 400P) Q = 2000 – 0,2P ============ Jadi Dari kasus diatas diperoleh fungsi permintan Qd = 2000 – 0,2P B. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran adalah persamaan yang menunjukkan hubungan harga barang di pasar dengan jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen. Fungsi penawaran digunakan oleh produsen untuk menganalisa kemungkinan2 banyak barang yang akan diproduksi. Menurut hukum penawaran bila harga barang naik, dengan asumsi cateris paribus (faktor-faktor lain dianggap tetap), maka jumlah barang yang ditawarkan akan naik, dan sebaliknya apabila harga barang menurun jumlah barang yang ditawarkan juga menurun. jadi dalam fungsi penawaran antara harga barang dan jumlah barang yang ditawarkan memiliki hubungan posifit, karenanya gradien (b) dari fungsi penawaran selalu positif. Bentuk umum dari fungsi penawaran linear adalah sebagai berikut: Qs = a + bPs dimana : a dan b = adalah konstanta, dimana b harus bernilai positif b = ∆Qs/ ∆Ps Ps = adalah harga barang per unit yang ditawarkan Qs = adalah banyaknya unit barang yang ditawarkan Ps≥ 0, Qs≥ 0, serta dPs/ dQs > 0 Pada saat harga durian Rp. 3.000 perbuah toko A hanya mampu menjual Durian sebanyak 100 buah, dan pada saat harga durian Rp. 4.000 perbuah toko A mampu menjual Durian lebih banyak menjadi 200 buah. dari kasus tersebut buatlah fungsi penawarannya ? Jawab : dari soal diatas diperoleh data sebagai berikut : P1 = 3.000    Q1 = 100 buah P2 = 4.000    Q2 = 200 buah Langkah selanjutnya, kita memasukan data-data diatas kedalam rumus persamaan linear a: P – P1       Q – Q1 ——–  =  ——— P2 – P1     Q2 – Q1 P – 3.000         Q – 100 ————– = ————- 4.000 – 3.000     200 – 100 P – 3.000          Q – 100 ————–  = ————- 1.000               100 (P – 3.000)(100) = (Q – 100) (1.000) 100P – 300.000  = 1.000Q – 100.000 1.000Q = -300.000 + 100.000 + 100P 1.000Q = -200.000 + 100P Q = 1/1000 (-200.000 + 100P ) Q = -200 + 0.1P ============ Jadi dari kasus diatas diperoleh Fungsi penawaran : Qs = -200 + 0,1Pd C. Keseimbangan Harga Keseimbangan harga di pasar tercapai apabila Qd = Qs atau Pd = Ps, Jadi keseimbangan harga merupakan kesepakatan-kesepakatan antara produsen dan konsumen dipasar. untuk lebih jelasnya perhatikan contoh soal dibawah ini :
Jawab: Keseimbangan terjadi apabila Qd = Qs, Jadi 10 – 0,6Pd  = -20 + 0,4Ps 0,4P + 0,6P = 10 + 20 P = 30 Setelah diketahui nilai P, kita masukan nilai tersebut kedalam salah satu fungsi tersebut: Q = 10 – 0,2(30) Q = 10 – 6 Q = 4, Jadi keseimbangan pasar terjadi pada saat harga (P)=30 dan jumlah barang (Q) = 4. D. Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pengenaan pajak atau pemberian subsidi atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang tersebut, mempengaruhi harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan. Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut naik. Setelah dikenakan pajak, maka produsen akan mengalihkan sebagian beban pajak tersebut kepada konsumen, yaitu dengan menawarkan harga jual yang lebih tinggi. Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta di pasar menjadi lebih tinggi daripada harga keseimbangan sebelum pajak, sedangkan jumlah keseimbangan menjadi lebih sedikit. Pengenaan pajak sebesar t atas setiap unit barang yang dijual menyebabkan kurva penawaran bergeser ke atas, dengan penggal yang lebih besar (lebih tinggi) pada sumbu harga. Jika sebelum pajak persamaan penawarannya P = a + bQ, maka sesudah pajak ia akan menjadi P = a + bQ + t. Dengan kurva penawaran yang lebih tinggi (cateris paribus), titik keseimbangan akan bergeser menjadi lebih tinggi. Contoh:
Jawab: Sebelum pajak Pe = 7 dan Qe = 8 (contoh di atas). Sesudah pajak, harga jual yang ditawarkan oleh produsen menjadi lebih tinggi. Persamaan penawaran berubah dan kurva bergeser ke atas. Penawaran sebelum pajak : P = 3 + 0.5 Q Penawaran sesudah pajak : P = 3 + 0.5 Q + 3 P = 6 + 0.5 Q Q = -12 + 2 P Sedangkan persamaan permintaan tetap : Q = 15 – P Keseimbangan pasar : Qd = Qs 15 – P = -12 + 2P 27 = 3P P = 9 Q = 15 – P Q = 15 – 9 Q = 6 Jadi, sesudah pajak : Pe’ = 9 dan Qe’ = 6 E. Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Subsidi merupakan kebalikan atau lawan dari pajak, dan sering disebut pajak negatif. Pengaruh terhadap pajakjuga berkebalikan dengan keseimbangan akibat pajak. Subsidi juga dapat bersifat spesifik dan juga proposional. Pengaruh Subsidi. Subsidi yang diberikan atas produksi/penjualan barang menyebabkan harga jual barang tersebut menjadi lebih rendah. Dampaknya harga keseimbangan yang tercipta di pasar lebih rendah daripada harga keseimbangan sebelum atau tanpa subsidi,dan jumlah keseimbangannya menjadi lebih banyak. Dengan subsidi spesifik sebesar s kurva penawaran bergeser sejajar ke bawah, dengan penggal yang lebih rendah( lebih kecil ) pada sumbu harga. Jika sebelum subsidi persamaan penawaran P = a + bQ, maka sesudah subsidi akan menjadi P’ = a + b Q – s = ( a – s ) + b Q. Karena kurva penawaran lebih rendah, cateris paribus, maka titik keseimbangan akan menjadi lebih rendah. Contoh:
Jawab: Tanpa subsidi, Pe = 7 dan Qe = 8 (pada contoh kasus di atas Dengan subsidi , harga jual yang ditawarkan oleh produsen menjadi lebih rendah, persamaan penawaran berubah dan kurvanya turun. Penawaran tanpa subsidi : P = 3 + 0.5 Q Penawaran dengan subsidi : P = 3 + 0.5 Q – 1.5 P = 1.5 + 0.5 Q Q = -3 + 2 P Keseimbangan pasar setelah ada subsidi: Qd = Qs 15 – P = -3 + 2P 18 = 3 P P = 6 Q = 15 – P Q = 15 – 6 = 9 Jadi, dengan adanya subsidi : Pe’ = 6 dan Qe’ = 9 Untuk lebih memperjelas tentang fungsi permintaan dan penawaran, mari kita bahas beberapa soal olimpiade sains ekonomi yang ada kaitannya dengan fungsi permintaan dan penawaran : Soal pertama : (Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2006)
Jawab: Keseimbangan terjadi pada saat Qd = Qs, Jadi 80 – 2P = -120 + 8P 8P + 2P = 120 + 80 10P = 200 P = 200 / 10 P = 20 Nilai P kita masukan kedalam fungsi permintaan atau penawaran untuk mencari berapa jumlah harga keseimbangan : Qs = -120 + 8(20) Qs = -120 + 160 Qs = 40 Jadi Jumlah barang dan harga keseimbangan masing-masing adalah 40 dan 20. Soal kedua : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2006)
Ketika harganya Rp. 15.000,00 permintaan lampu adalah 4.000 untuk setiap barang, dan untuk setiap kenaikan harga sebesar Rp. 1.000,00 permintaan lampu turun 500 untuk setiap barang. Berdasarkan data, fungsi permintaan adalah … Jawab: dari data diatas diperoleh data-data sebagai berikut : P1 = 15.000 Q1=4000 jika kenaikan harga perunit (∆P) = 1.000  maka harga barang (Q) akan turun 500 perunit. jadi apabila P2 = 16.000 maka Q2=3500 Setelah itu data-data diatas kita masukan kedalam fungsi persamaannya: P – P1       Q – Q1 ———- = ———– P2 – P1      Q2 – Q1 P – 15.000            Q – 4.000 —————– = —————- 16.000 – 15.000      3.500 – 4.000 P – 15.000             Q – 4.000 —————– = —————- 1.000                     -500 (P – 15.000)(-500) = (Q – 4.000)(1.000) -500P + 7.500.000 = 1.000Q – 4.000.000 1000Q = 4.000.000 + 7.500.000 – 500P Q = 1/1000 (11.500.000 – 500P) Q = 11.500 – 0,5P ============== Jadi fungsi permintaan dari soal diatas adalah Q = 11.500 – 0,5P atau Q = -1/2P + 11.500 Soal ketiga : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008)
Jawaban: keseimbangan pasar terjadi apabila Qd = Qs atau Pd = Ps, Jadi karena pada soal diketahui Qd dan Ps, maka kita dapat mensubtitusikan kedua persamaan tersebut untuk memperoleh harga keseimbangan. Qd = 40 – 2P dan Ps = Q + 5, Kita subtitusikan menjadi : Q = 40 – 2(Q + 5) Q = 40 – 2Q - 10 Q = 40-10-2Q Q = 30 – 2Q Q + 2Q = 30 3Q = 30 Q = 30/3 Q = 10 Setelah nilai Q diketahui, maka langkah selanjutnya kita memasukan nilai Q kedalam fungsi Ps untuk memperoleh harga keseimbangan. Ps = 10 + 5 Ps = 15 Jadi harga keseimbangan terjadi pada saat Q = 10 dan P = 15. Soal keempat : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2009)
Bila harga “Lancer” Notebook Rp 5.000.000, 00/unit, permintaan adalah 80 unit, Jika harga meningkat 10%, permintaan akan mengalami penurunan menjadi 60 unit. Berdasarkan data itu, fungsi permintaan adalah … Jawaban: dari data diatas diperoleh data-data sebagai berikut: P1 = 5.000.000 Q1 = 80 Jika harga naik 10% (P2 = (10% x 5.000.000) + 5.000.000 = 5.500.000) maka Q2 = 60 langkah selanjutnya, kita masukan data-data diatas kedalam persamaan fungsi permintaannya: P – P1      Q – Q1 ———- = ———– P2 – P1    Q2 – Q1 P – 5.000.000                      Q – 80 ————————-  = —————— 5.500.000 – 5.000.000              60 – 80 P – 5.000.000                Q – 80 ————————- = —————— 500.000                       -20 (P – 5.000.000)(-20) = (Q – 80)(500.000) -20P + 100.000.000 = 500.000Q – 40.000.000 500.000Q = 100.000.000 + 40.000.000 – 20P 500.000Q = 140.000.000 – 20P Q = 1/500.000 (140.000.000 – 20P) Q = 280.000 – 0,00004P atau Q = 280 – 0,04P ========================== Demikian saja pembahasan dari saya tentang fungsi permintaan dan penawaran, jika ada komentar atau pertanyaan tentang soal-soal olimpiade sains ekonomi atau soal-soal UN yang ada kaitannya dengan fungsi permintaan dan penawaran, silahkan anda poskan pada kotak komentar, insyaAllah jika ada kesempatan kami akan senang menjawabnya. terimakasih. kami tunggu pertanyaannya. |
|
|||||
| A. Definsisi elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran.
Elastisitas harga permintaan merupakan ukuran kuantitatif yang menunjukkan sejauh mana bsarnya pengaruh perubahan harga terhadap jumlah yang diminta. Elastisitas penawaran merupakan ukuran kuantitatif yang menunjukkan sejauh mana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap jumlah yang ditawarkan. manfaat dari elastitistas permintaan adalah sebagai berikut :
Adapun Rumus elastisitas adalah sebagai berikut : Perubahan nisbi jumlah yang diminta E  = —————————————————— Perubahan nisbi harga Rumus diatas dapat dinyatakan dengan : Q2 – Q1                  ∆Q ———–              ——- Q1                     Q1 E = ——————– = ———– P2 – P1                   ∆P ———-              ——– P1                        P1 P1     ∆Q E = —- . —— Q1     ∆P Rumus diatas berlaku untuk menghitung elastisitas permintan dan juga elastisitas penawaran. pada elastisitas penerimaan disimbolkan dengan (Ed), karena nilai elastisitas permintaan selalu negatif maka nilai E harus di absolutkan. pada elastisitas penawaran disimbolkan dengan (Es). Penaksiran terhadap koefisien elastisitas (E) baik  elastisitas permintaan ataupun elastisitas penawaran adalah sebagai berikut :
untuk lebih memperjelas pemahaman anda tentang elastisitas, dibawah ini kami sajikan contoh soal dan pembahasan yang berkaitan dengan elastisitas permintan dan elstisitas penawaran : Soal pertama :Â (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2009)
Jawab : Dari data diatas diketahui : P1 = 5.000   Q1 = 20 P2 = 4.500   Q2 = 10 langkah pertama kita menentukan perubahan jumlah penawaran dan harga ∆Q = Q2 -Q1 = 10-20 = -10 ∆P = 4.500 – 5.000 = -500 Langkah selanjutnya, kita masukan data-data diatas kedalam rumus elastisitas : P1     ∆Q Es = —- . —— Q1    ∆P 5.000   -10 Es = ——- . —— 20    -500 Es = 5 ======= Nilai Es = 5 > 1, menunjukan penawaran elastis. Soal kedua : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008) Request tables of rice in an area in one month: ——————————————— Price Per Kg              Amount of Request ——————————————— Rp. 4.000,00                 10 ton Rp. 4.500,00                   8 ton ——————————————— Pursuant to request tables of rice above, what kind of request type including….. Jawab : dari soal diatas diperoleh data-data sebagai berikut : P1 = 4.000  Q1 = 10 ton P2 = 4.500  Q2 = 8 ton Langkah pertama kita menghintung perubahan jumlah barang dan harga… ∆Q     = Q2 – Q1 = 8 – 10 = -2 ∆P       = P2 - P1 = 4.500 – 5000= -500 Langkah selanjutnya kita masukan data diatas kedalam rumus elastisitas permintaan: Ed = (P1/Q1) x (∆Q/∆P) Ed = (4000/10) x (-2/-500) Ed = (400) x (0,004) Ed = 1,6 ======= Nilai Ed > 1, Jadi permintaan bersifat elastis. Soal ketiga : (Soal olimpiade sains kabupaten (OSK) Ekonomi 2006)
Jawab : dari soal diatas didapat data-data sebagai berikut : P1 = 500    Q1 = 1000 P2 = (500×20%)+500 = 100 + 500 = 600 Q2 = 1000 + 100 = 1100 langkah pertamaa kita menghitung perubahan Q dan P ∆Q = Q2 – Q1 = 1100 – 1000 = 100 ∆P = P2 – P1 = 600 – 500 = 100 langkah selanjutnya kita masukan data-data diatas kedalam rumus elastisitas penawaran : Ed = (P1/Q1) x (∆Q/∆P) Ed = (600/1000) x (100/100) Ed = 0,6 Nilai Ed = 0,6 berarti Ed < 1, jadi Elatisitasnya dinamakan in elastis =============================================== Demikian saja pembahasan kita tentang elastisitas permintan dan elastisitas penawaran, jika ada pertanya seputar masalah yang berkaitan dengan elastisitas permintaan dan penawaran, baik itu soal olimpiade sains ekonomi atau soal ujian nasional ekonomi, silahkan diposkan melalu kotak komentar, terimakasih. saya tunggu pertanyaannya. |
|||||
|
|||||
| A. PENGERTIAN
Pendapatan nasional adalah merupakan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu negara selama satu tahun. B. KONSEP PENDAPATAN NASIONAL 1. PDB/GDP (Produk Domestik Bruto/Gross Domestik Product) Produk Domestik Bruto adalah jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama satu tahun. Dalam perhitungannya, termasuk juga hasil produksi dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi diwilayah yang bersangkutan 2. PNB/GNP (Produk Nasional Bruto/Gross Nasional Product) PNB adalah seluruh nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu Negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Negara tersebut yang berada di luar negeri. Rumus : GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri 3. NNP (Net National Product) NNP adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam periode tertentu, setelah dikurangi penyusutan (depresiasi) dan barang pengganti modal. Rumus : NNP = GNP – Penyusutan 4. NNI (Net National Income) NNI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima oleh masyarakat setelah dikurangi pajak tidak langsung (indirect tax) Rumus : NNI = NNP – Pajak tidak langsung 5. PI (Personal Income) PI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima masyarakat yang benar-benar sampai ke tangan masyarakat setelah dikurangi oleh laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan social, pajak perseorangan dan ditambah dengan transfer payment. Rumus : PI = (NNI + transfer payment) – (Laba ditahan + Iuran asuransi + Iuran jaminan social + Pajak perseorangan ) 6. DI (Disposible Income) DI adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah siap dibelanjakan oleh penerimanya. Rumus : DI = PI – Pajak langsung untuk lebih mendalami tentang konsep-konsep pendapatan nasional diatas, mari kita bahas soal dibawah ini: Diketahui data-data keuangan suatu negara sebagai berikut: - GDP     Rp. 100 Triliun - Penyusutan    Rp. 5 Triliun - NNP            Rp. 95 Triliun - Pajak tidak langsung Rp. 10 Triliun - Pajak perseroan       Rp. 8 Triliun - laba yang tidak dibagi Rp. 2 triliun - iuran pensiun Rp. 5 Triliun - dana pensiun Rp. 5 Trilliun - subsidi penganggur  Rp. 2 Triliun - tunjangan veteran   Rp. 3 Triliun - bunga utang    Rp. 3 Triliun - pajak langsung Rp. 8 Triliun dari data diatas hitunglah : a. NNP b. NNI c. PI d. DI Jawab : berikut adalah pembahasan soal diatas secara keseluruhan : GNP                                            Rp.100 Triliun Penyusutan                                  Rp.    5 Triliun ————– (-) NNP Rp. 95 Triliun Pajak tidak langsung                     Rp. 10 Triliun ————— (-) NNI Rp.  85 Triliun pajak perseroan    Rp.  8 Triliun Laba tidak dibagi Rp. 2 Triliun iuran pensiun         Rp. 5 Triliun —————- (+) Rp. 15 Triliun —————- (-) Rp. 70 Triliun dana pensiun          Rp. 5 Triliun subsidi penganggur Rp. 2 Triliun tunjangan veteran  Rp. 3 Triliun bunga utang          Rp. 3 Triliun ————– (+) Rp. 13 Triliun —————-(+) PI Rp. 83 Triliun Pajak langsung                               Rp.  8 Triliun —————- (-) DI Rp. 75 Triliun ============ C. PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL 1. Tujuan dan manfaat perhitungan pendapatan nasional Tujuan mempelajari pendapatan nasional :
2. Manfaat mempelajari pendapatan nasional
3. Perhitungan Pendapatan Nasional a. Metode Produksi Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……] b. Metode Pendapatan Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode. Y = r + w + i + p c. Metode Pengeluaran Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun. Y = C + I + G + (X – M) D. Pendapatan perkapita 1. Arti Pendapatan perkapit Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB per kapita. Pendapatan perkapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur negara tersebut. Adapun rumus pendapatan per kapita adalah sebagai berikut : Jumlah Pendapatan Nasional Pendapatan per Kapita = ———————————- Jumlah Penduduk 2. Pendapatan per Kapita dan Pertumbuhan pendapatan perkapita. Jika pendapatan nasional untuk berbagai tahun diketahui, menentukan pendapatan perkapita bukanlah hal sulit. Pendapatan perkapita adalah pendapatan rata-rata penduduk. oleh karena itu, untuk mendapatkan perkapita suatu tahun tertentu adalah dengan cara membagi pendapatan pada tahun itu dengan jumlah penduduk tahun yang bersangkutan. untuk menentukan tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita dari tahun ke tahun dapat ditentukan dengan cara penentuan pertumbuhan pendapatan nasional riil, yatu dengan rumus sebagai berikut : PNR2 – PNR1 GT2 = ———————- x 100% PNR1 Keterangan: GT2   = pertumbuhan pendapatan perkapita yang dinyatakan dalam persen PNR2 = pendapatan per kapita pada tahun 2 (tahun yang dicari pendapatan perkapitanya) PNR1 = pendapatan perkapita sebelum tahun ke 2. untuk lebih memperdalam pokok bahasan diatas, mari kita bahas soal-soal dibawah ini : Soal pertama : (Soal Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2006) National Income data (in billion rupiah) from a country are as follow : Household consumption Rp. 1.500 Investment                    Rp. 2.500 Goverment Expenditure Rp. 4.000 Revenue                       Rp. 1.050 Wages                          Rp.   700 Rent                             Rp.   100 Saving                          Rp. 2.500 Company Profit           Rp. 4.450 Export Netto                Rp. 1.200 The amount of national income interm of expenditure approach are…. Jawaban : yang ditanya dari soal diatas adalah jumlah pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan pengeluran: adapun rumus pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran adalah : Y = C + I + G + (X – M) Y = 1.500 + 2.500 + 4.000 + 1.200 Y = 9.200 ======== jadi besarnya pendaptan nasional dengan menggunakan metode pengeluaran adalah Rp. 9.200 Soa kedua : (Soal olimpiade sains kabupaten (OSK) ekonomi 2006) Suatu negara mempunyai data pendapatan nasional sebagai berikut : Konsumsi masyarakat  Rp.  90.000.000 Pendapatan laba usaha Rp. 20.000.000 Pengeluaran Negara     Rp.130.000.000 Pendapatan sewa         Rp. 40.000.000 Pengeluaran investasi    Rp. 50.000.000 Ekspor                         Rp.  15.000.000 Impor                           Rp.  20.000.000 dari diatas hitunglah pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran… Jawab : Rumur Pendapatan nasional dengan pendekatan nasional : Y = C + I + G + (X – M) Y = 90.000.000 + 50.000.000 + 130.000.000 + (15.000.000 – 20.000.000) Y = 270.000.000 – 5.000.000. Y = 265.000.000 ============ Jadi jumlah pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan pengeluaran adalah Rp. 265 Juta. Soal ketiga : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008) Data for the calculation of national income shall be as follows : - Goverment Expenditure  $ 110.500 - Wages                $  85.000 - Society expenditure     $ 240.400 - Interest         $ 75.200 - Export          $ 45.200 - Rent           $ 90.000 - Investment       $ 120.000 - Import            $   40.000 - Profit          $ 90.800 From data above mount of national income with income approach is…. Jawab : pada soal diatas yang ditanyakan adalah jumlah pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan. adapun rumus pendekatan pendapatan adalah sebagai berikut : Y = r + w + i + p Y = 90.000 + 85.000 + 75.200 + 90.800 Y = 341.000 ========= Jadi dengan menggunakan metode pendapatan, diperoleh nilai pendapatan nasioan sebesar $ 341.000 Soal keempat : (Soal olimpiade sains kabupaten (OSK) Ekonomi 2009) dibawah ini data yang diperlukan dalam perhitungan pendapatan nasional : - Upah   Rp. 12.000.000 - Laba   Rp.   9.000.000 - Pengeluaran pemerintah Rp. 10.000.000 - Pendapatan bunga Rp. 6.000.000 - Pendaptan sewa    Rp. 8.000.000 - Pengeluaran rumah tangga swasta Rp. 36.000.000 - Impor     Rp. 5.000.000 - Konsumsi Rp. 25.000.000 - Ekspor   Rp. 7.000.000 berdasarkan data diatas, besarnya pendapatan nasional dengan menggunakan metode pengeluaran adalah: Jawab : Rumus Metode pengeluaran : Y = C + I + G + (X – M) Y = 25.000.000 + 36.000.000 + 10.000.000 (7.000.000 – 5.000.000) Y = 71.000.000 + 2.000.000 Y = 73.000.000 ============ jadi dengan menggunakan metode pengeluaran, besarnya pendapatan nasional adalah Rp. 73.000.000 Demikian saja pembahasan kita kali ini tentang Pendapatan nasional, jika pertanyaan-pertanyaan seputar pendapatan nasional baik itu berupa soal olimpiade sains ekonomi atau soal ujian nasional ekonomi, silahkan poskan pertanyaan anda pada kotak komentar. terimakasih dan kami tunggu pertanyaan dari anda. |
|||||
|
|||||
| Seorang ahli ilmu ekonomi JM. Keynes, mengatakan bahwa Pengeluaran seseorang untuk konsumsi dan tabungan dipengaruhi oleh pendapatannya.
Semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol. Menerut JM. Keynes, pendatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu : (1). Pendapatan Perseorangan ( Y=C+S) dan (2). Pendapatan Perusahaan (Y=C+I). Karena pembahasan kita kali ini berkaitan dengan fungsi konsumsi dan tabungan, maka pokok bahasan kita kali berkaitan dengan pendapatan perseorangan (Y=C+S) dan kaitannya dengan fungsi konsumsi dan tabungan. Apabila pendapatan berubah, maka perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan Perbandingan antara pertambahan konsumsi (∆C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposible (∆Yd) yang diperoleh disebut kecondongan mengkonsumsi marjinal (MPC = Marginal Propensity to Consume). Perbandingan antara pertambahan tabungan (∆S) dengan pertambahan pendapatan disposibel (∆Yd) yang diperoleh disebut kecondongan menabung marjinal (MPS = Marginal Propensity to Save). untuk mengetahui perubahan tingkat konsumsi, maka dapat digunakan rumus : ===> MPC = ∆C / ∆Y dan APC = C / Y dan untuk mengetahui perubahan tingkat konsumsi, maka dapat digunakan rumus : ===> MPC = ∆S / ∆Y dan APC = S / Y Fungsi konsumsi adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat konsumsi rumah tangga dengan pendapatan nasional dalam perekonomian. Sedangkan fungsi tabungan adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat tabungan rumah tangga dan pendapatan nasional dalam perekonomian. Persamaan antara hubungan itu adalah : Fungsi Konsumsi : C = a + bY Fungsi Tabungan  : S = -a + (1-b)Y dimana : a = konsumsi rumah tangga secara nasional pada saat pendapatan nasional = 0 b = kecondongan konsumsi marginal (MPC) C = tingkat konsumsi S = tingkat tabungan Y = tingkat pendapatan nasional. untuk lebih jelasnya tentang fungsi konsumsi dan tabungan, mari kita bahas soal-soal Olimpiade Sains Ekonomi yang ada kaitannya dengan fungsi konsumsi dan tabungan : Soal pertama : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2009).
Pembahasan : dik : -  a = 1.500.000 (Konsumsi pada saat y=0) - ∆C = C1 – C0 = 4.500.000 – 1.500.000 = 3.000.000 - Y  = Y1 – Y0 = 5.000.000 - ∆Y = 5.000.000 – 0 = 5.000.000 dit : Fungsi Konsumsi ? jawab : Fungsi konsumsi dinyatakan dengan : C = a + bY atau C a + mpcY pada soal diatas sudah diketahui nilai a, Y, ∆Y, dan ∆C, jadi langkah selanjutnya kita mencari MPC MPC = ∆C / ∆Y MPC = 3.000.000 / 5.000.000 = 3/6 MPC = 0,6 setelah MPC kita ketahui, maka fungsi konsumsi untuk Daniel dapat kita tentukan sebagai berikut : C = a + mpcY, ================ C = 1.500.000 + 0,6Y ================= Soal Kedua : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2009).
Pembahasan : dik : – fungsi konsumsi C = 30 + 0,8Y - tabungan S = 20 dit : Besar Konsumsi (C) ? Jawab : untuk mengetahui besarnya konsumsi, maka langkah yang paling pertama adalah kita harus mencari terlebih dahulu berapakah nilai Pendapatan (Y) dari fungsi tersebut. untuk mencari nilai Y maka kita bisa menggunakan fungsi tabungan dan nilai tabungannya, C = 30 + 0,8Y maka fungsi tabungannya adalah S = -a + (1 – MPC)Y==> S = -30 + 0,2Y diketahui nilai S = 20, lalu kita masukan kedalam fungsi tabungan (S) untuk memperoleh nilai Y S     = -30 + 0,2Y 20    = -30 + 0,2Y 0,2Y = 20 + 30 0,2Y = 50 Y     = 50 / 0,2 Y      = 250 Langkah selanjutnya untuk mencari besarnya konsumsi (C) adalah kita memasukan nilai Y kedalam fungsi konsumsi. C = 30 + 0,8Y C = 30 + 0,8(250) C = 30 + 200 C = 230 ======= Jadi besarnya konsumsi (C) adalah 230. Soal Ketiga :  (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008).
Pembahasan: Diketahui : Y = 8.000.000 Fungsi Konsumsi ==> C = 1.500.000 + 0,70Y Ditanya : besarnya tabungan (S) ? Jawab : untuk mengetahui besarnya nilai tabungan (S) maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah merubah fungsi konsumsi kedalam fungsi tabungan kemudian memasukan nilai pendapatan (Y) kedalam fungsi tabungan. C = 1.500.000 + 0,70Y maka fungsi tabungannya adalah : S = -a + (1-MPC)Y S = – 1.500.000 + 0,30Y untuk mencari besarnya tabungan (S) ibu tutik maka kita masukan nila Y kedalam fungsi konsumsi: S = -1.500.000 + 0,30(8.000.000) S = -1.500.000 + 2.400.000 S = 900.000 ============ Jadi besarnya Tabungan keluarga ibu Tutik adalah Rp.900.000,00 Soal Keempat : (Soal Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2008)
Pembahasan : untuk menjawab pertanyaan diatas, kita hanya memerlukan waktu 30detik, diketahui MPS = 0,15Â maka MPC = 1 – MPS MPC = 1 – 0,15 MPC = 0,85 =========== Jadi besarnya Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah 0,85 soal selanjutnya :Â (Soal Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2007)
Pembahasan: Sama dengan soal sebelumnya, untuk membahas soal ini kita hanya membutuhkan waktu 30 detik. Diketahui MPC = 0,8 Maka MPS = 1 – MPC MPS = 1 – 0,8 MPS = 0,2 ======== Jadi besarnya Marginal Propensity to Save (MPS) adalah 0,2 =========================================== Demkian saja pembahasan mengenai fungsi konsumsi dan tabungan mudah-mudahan bermanfaat, dan jika ada pertanyaan seputar soal-soal olimpiade Eknomi dan Soal-soal UN ekonomi, silahkan diposkan pada bagian komentar. Insyaallah jika ada waktu luang saya akan menjawabnya dengan senang hati. terimakasih. saya tunggu petanyaannya. |
|||||
|
|||||
| A. Indek Harga
1. Pengertian Angka Indek Angka indek merupakan suatu konsep yang dapat memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan variabel dari suatu priode ke periode berikutnya. Dengan demikian angka indek dapat diartikan sebagai angka perbandingan yang perubahan relatifnya dinyatakan dalam bentuk prosentase (%) terhadap yang lain. 2. Peranan angka indek dalam ekonomi Indek harga dalam ekonomi mempunyai peranan antara lain :
3. Jenis-jenis angka indek a. Indek harga konsumen (IHK) Indek harga konsumen adalah ukuran statistik yang dapat menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada eceran barang dan jasa yang diminta oleh konsumen dari waktu ke waktu. b. Indek harga perdagangan besar (Whole Saler) Indek harga perdangan besar adalah angka indek yang menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi atas harga pada pasar primer mengenai barang-barang tertentu. c. Indek harga yang diterima petani Angka indek yang diterima petani adalah indek harga yang berhubungan dengan pengorbanan (harga pokok) yang telah dikorbankan denganhasil/yang diterima petani. d. Indek harga yang dibayar petani. Indek yang dibayar petani adalah indek harga yang meliputi pembelian/biaya konsumsi dan pembelanjaan untuk biaya produksi pertaniannya. 4. Perhitungan angka indek harga (price index). Angka indek harga adalah angka indek yang menunjukkan perubahan harga dari suatu periode ke periode lainnya. angka indek harga dapat dirumuskan sebagai berikut: ∑Pn Pn = ————— x 100% ∑Po Keterangan : P = angka indek harga pada tahun n Pn = harga tahun n, tahun yang akan dihitung indeknya Po = harga tahun dasar Contoh kasus : beberapa harga kebutuhan pokok sebagai berikut : —————————————————————- Jenis    Harga Tahun 2003   Harga Tahun 2004 jika tahun 2003 dianggap tahun dasar maka angka indek tahun 2003 adalah 100. sedangkan angka indek tahun 2004 secara agregatif daapt dicari sebagai berikut : 20.000 Pn = ———— x 100% 20.000 Pn = 1 x 100% Pn = 100%, jadi angka indek tahun 2004 adalah 100%. 5. Indek harga dengan Metode Laspeyres Perhitungan angka indek laspeyres (IL) merupakan angka indek tertimbang dengan faktor penimbang (W) secara obyektif. Faktor penimbangnya ditentukan dengan kuantitas (Q) dengan menggunakan tahun dasar (Qo). angka indek laspeyres (IL) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : ∑Pn x Qo IL = ————— x 100% ∑Po x Qo keterangan : IL = angka indek laspeyres. Pn = harga tahun n, tahun yang akan dihitung angka indeknya. Po = harga tahun dasar. Qo = kuantitas tahun dasar. untuk lebih jelasnya tentang IL, mari kita bahas soal dibawah ini : beberapa harga kebutuhan pokok sebagai berikut : ——————————————————————————— JIka tahun 2003 dianggap sebagai tahun dasar maka angka indek tahun 2003 adalah 100. untuk angka indek laspeyres tahun 2004 adalah sebagai berikut : ∑Pn x Qo IL = ————— x 100% ∑Po x Qo 840.000 IL = ————– x 100% 720.000 IL = 116,67% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa harga kebutuhan pokok pada tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 16,67% dibandingkan tahun dasar 2003. 6. Indek harga dengan metode Paasche Angka indek paasche merupakan angka indek tertimbang dengan faktor penimbang secara obyektif. Faktor penimbangnya ditentukan dengan jumlah (Q) dengan menggunakan jumlah tahun n (Qn). angka indek Paasche dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : ∑Pn x Qn IP = ————— x 100% ∑Po x Qn Contoh Kasus: Tabel daftar harga beberapa kebutuhan pokok tahun 2003 s/d 2004 ——————————————————————————– Jenis     Harga  Harga   Kuantitas      Po x Qn    Pn x Qn Barang   2003    2004     2003   2004      2003         2004 (Po)    (Pn)      (Qo)   (Qn) ——————————————————————————– Beras     3.000  4.000       90        95     285.000      380.000 Terigu   7.000  8.000       50        60     420.000       480.000 Gula     10.000  8.000       10        25     250.000       200.000 ——————————————————————————— ∑          20.000 20.000     150     180   955.000       1.060.000 ——————————————————————————— JIka tahun 2003 dianggap sebagai tahun dasar maka angka indek tahun 2003 adalah 100. untuk angka indek Paasche tahun 2004 adalah sebagai berikut : ∑Pn x Qn IP = ————— x 100% |
|||||